menu bar dan sub menu bar

Minggu, 25 Februari 2018

Novel rohani Inspirasi



“Bukan  karena tak ada waktu untuk mengintrospeksi diri, tetapi karena kita telah menilai diri kita sendiri telah sempurna, padahal sesungguhnya masih ada banyak hal yang perlu untuk  dibaharui dalam diri kita”
Ch. Wanto, 15 Des. 2017
Memandang wajah kitapun seakan mereka tidak layak, padahal sesungguhnya mereka sangat merindukan kehadiran kita. Mereka berbatin ‘kapankah engkau datang membagikan kabar keselamatan bagi kami?’
Dilain pihak engkau pun berdengung ‘biarkan mereka, tangan ku terlalu licin untuk menyentuh mereka, kakiku terasa geli bila melangkah kesana untuk mereka’
Dalam kesesakan mereka berusaha mencari jalan yang benar dan dalam kebutaan mereka, tak satupun dari kita yang mau datang untuk menuntun dan membawa mereka kejalan yang benar.
Ch.Wanto 11 Feb. 2018
INI ADALAH INSPIRASI KU

“DISAAT TERAKHIR KU MELIHAT ‘DIA ’ ”
SAHABAT LIAR KU
            Beberapa hari sebelum memasuki tahun 2018, kami memang sudah saling mengenal. Memang tak begitu mengenal lebih dalam karena aku dengannya hanya bertemu dan saling bertukar pikiran beberapa saat ketika suatu sore yang sejuk langkah kakiku membawa ku pergi menikmati udara segar disore hari, beberapa mil dari asrama tempat ku menempuh studi.Percakapan tersebut seakan tidak begitu berarti baginya, namun bagiku menyimpan sebuah makna dan misteri yang sangat dalam.  Mungkin saja ia telah melupakan wajahku, tapi sejujurnya, wajah kusut, penuh keringat dan perjuangan masih terngiang dan bahkan ingatan ku tentang wajahnya masih begitu segar.
            Dalam percakapan tersebut, kalimat demi kalimat kami saling lontarkan untuk saling bertanya dan menjawab. Namun siapa menyangka, bahwa kalimat -kalimat yang mengandung makna yang begitu dalam dan mampu mengguncangkan dada dan hati ku, diucapkannya.
“kenapa TUHAN orang Kristen tidak pernah mengerti dengan keadaan hati manusia. Tidakkah IA tahu bahwa telah lama ku menantikan orang-orang-NYA untuk datang ketempat ku ini ? atau kah IA tidak mau berbagi dengan ku lingkungan surga-NYA ? setiap hari minggu ketika aku berjalan disamping sebuah gereja, aku melihat orang-orang-NYA keluar dengan wajah ceria dan tak ada duka dan luka dimata mereka. namun tak satupun dari mereka yag mau datang untuk berbagi dengan ku agar bisa tersenyum seperti mereka tersenyum. Dalam hati ku menjerit setiap saat, kenapa orang-orang-MU tidak pernah datang untukku. Membuat aku tersenyum dan tertawa seperti mereka walau hanya sedetik, aku hanya ingin merasakan hati yang tersenyum. Ataukah karena kondisiku yang membuat orang-orang-MU berat melangkahkan kakinya untukku ?”
            Aku hanya terdiam. Ini adalah percakapan yang tidak pernah terfikir oleh ku akan terjadi. dadaku terasa sangat nyesak mendengarnya, namun kalimat tersebut melahirkan perenungan bati bagiku untuk mengintrospeksi diri.
Sesungguhnya juga ini bukanlah sebuah perjalanan yang direncanakan, karena sebagai seorang mahasiswa yang tinggal diasrama terkadang penat dengan rutinitas yang ku jalani, sehingga ketika ada waktu luang disaat minggu pekan (week end), aku lebih memilih untuk jalan-jalan sore sambil mendengar lagu di MP3 dengan headsed karena ditempat aku hidup berasrama dan studi, mahasiswanya tidak diperbolehkan untuk memegang HP (handphone) sehingga sejujurnya aku melihat diriku sebagai seorang yang hidup dizaman old , jauh dari  perkembangan teknologi. Dibandingkan  dengan teman-temanku yang kuliah sekuler dan tinggal diluar (tidak tinggal diasrama) mereka menjadi orang yang tahu tentang perkembangan teknologi dan informasi yang ada.
Setelah dua bulan lebih kujalani kehidupan ditahun 2018 dalam kehidupan dan lingkungan segitiga (asrama, ruang kuliah, ruang doa), aku menjalani semuanya biasa saja tanpa ada sesuatu yag berubah dan agak maju. Sampai disabtu sore tepatnya 10 Februari, ketika kepenatan yang amat dalam mencekam, tepat jam setengan 4 sore, kembali lagi kulangkahkan kaki ketempat yang beberapa bulan ditahun yang  lalu aku bertemu dengan “dia”. Tapak demi tapak kulangkahkan kaki menuju jalan tersebut, namun sama sekali tidak terpikir untuk bertemu dengan “dia” dan bahkan aku tidak lagi mengingat pertemuan tersebut, sampai tapak kaki ku membawakan ku makin dekat dengan tempat tersebut.
Pandangan ku tertuju pada satu kayu beralas gardus. Ternyata “dia” sedang terbaring diatasnya. Seperti ada sesuatu yang berbeda dengan situasi saat pertama aku datang ketempat ini. Pikiran dan langkahku seakan bersatu untuk segera membawa aku dari sana, dan melanjutkn perjalananku disore ini. Namun ada sesuatu yang aneh. Hatiku berbisik dalam sanubari dan keheningan pikiranku, agar langkahku segera menghampiri “dia” yang sedang terbaring diatas kayu beralas gardus tersebut. Aku ada antara melanjutkan perjalanan atau menghampiri “dia”. Akhirnya dalam dilema ku datang mendekati “dia” , dan perlahan aku mendekati “dia”. Lalu ku pandang kekiri dan kekanan, tak ada orang. Yang ada hanya seonggokan sampah plastik yang tersusun rapi. Sesaat hidungku mengajakku untuk pergi saja dari tempat tersebut untuk melanjutkan perjalanan menikmati udara yang lebih segar dari udara ditempat ini yang baunya begitu menyengat. Namun hatiku terus menahan agar aku tetap bertahan disana. Akhirnya dengan suara parau namun hati-hati, aku memberanikan diri untuk menyapa “dia”. Ternyata dia sedang tertidur.
Oh, dia ternyata masih mengingat wajahku. Ia bangun dan duduk tanpa bersandar. “dia” semakin pucat dan bahkan sangat kurus. Ketika agak lama bercerita, akhirnya aku tahu bahwa dia dari kemarin siang sampai sekarang  belum makan. Ia tak kuat melangkah untuk membeli makanan. Ternyata dia telah beberapa hari terbaring karena sakit, dadanya begitu perih, kata “dia”. Tapi maafkan aku sahabat liarmu, karena  tidak bisa merasakan apa yang engkau rasakan.
“sepahit inikah hidup yang ia rasakan”
“sesakit inikah jalan yang harus ia lalui”
Andai aku bisa, aku ingin meminjamkan hati “dia” kepadamu, dan kepadaku agar kita tahu bagaimana rasanya menjalani hidup seperti yang “dia” jalani. Dan entah mengapa aku sejenak terdiam didepan “dia”, aku ingin berbicara dengan “dia”, namun bila ku paksakan untuk berbicara, tentulah hanya air mata yang akan berbicara. Aku tak sanggup melihat perihnya jalan yang “dia” lalui. Aku segera pamit untuk jalan-jalan sebentar dan memohon agar dia menungguku lagi. Aku segera kembali dan “dia” hanya mengangguk.
Aku berjalan keluar, air mataku tak mempu ku bendung, sambil berjalan mencari warung yang mungkin menjual makanan, kukeluarkan dompetku. Langkah terhenti sejenak ketika melihat isi dalam dompetku.
“apakah uang ini cukup untuk membeli makanan dan obat untuk “dia”?”
Sejujurnya ini adalah uang kiriman dari orang tuaku dari kampung satu bulan lalu, untuk membeli perlengkapan dan kebutuhanku diasrama karena orang tuaku hanya sanggup mengirim uang sabun untukku tanpa uang jajan. Ku melihat jumlah uang didompetku masih 75.000,- lagi. Bila ku habiskan untuk membeli makanan dan obat untuk “dia” aku pakai apa untuk membeli sabu ? Sedang diasrama, perlengkapan untuk mandi dan juga untuk cuci sudah mau habis. Tetapi hati kecilku sekali lagi memaksakan agar aku tidak mengubah tujuan awal, apapun yang akan terjadi. kalaupun harus kekurangan tak apalah, toh ia lebih butuh dari ku.
            Kemudian kembali tengiang dalam pikiranku, ketika beberapa bulan yang lalu dalam memasuki semester III, seusai menyelesaikan tim kampus ke II, ketika aku merawat teman dekatku “R Z” yang sakit. Aku merawatnya dan bahkan semua makannya tercukupi. Ia memang jauh dari orang tua namun ada banyak kami yang memperhatikan dan merawatnya, dan senantiasa membelikan ia buah dan obat. Aku setia mendampinginya kepuskesmas dan rumah sakit untuk periksa kesehatannya. Dia dirawat dengan baik diasrama.
            Bagaimana dengan “dia” ? siapa yang merawatnya ? siapa yang membelikan makanan dan obat untuk “dia” ? adakah tangan yang tulus mau datang untuk membawanya menikmati enaknya tidur dikasur rumah sakit, penuh perhatian dan dirawat oleh tangan kaum medis ? Tidak. Tidak ada. Adakah yang mau datang untuk melakukan hal tersebut untuk “dia” ? Adakah kerinduannya untuk mendengarkan suara orang-orang-NYA untuk berbagi sukacita dengan dia telah dikabulkan ? betapa pahit kehidupan yang “dia” jalani.
            Akhirnya ku belikan nasi dan roti untuk “dia”  juga dua botol air minum. Secara tidak kebetulan lewat sebuah kereta yang menjual bantal. Kemudia langsung ku  belikan satu untuk “dia”. Kulihat sisa uang sekarang 37.000,-. Waktu sudah menunjukan setengah tujuh. Akhirnya kuputuskan untuk mengantarkan saja dulu makanan untuk “dia” . aku segera kembali ketempat tersebut dengan membawa bantal dan makanan yang telah kubelikan. Karena kupikir “dia” sangat kelaparan.
            Setelah sampai ketempat tersebut, ternyata “dia” tidak ada lagi ditempat “dia” berbaring. Dengan rasa gelisah yang amat dalam, kulihat disemua sudut tempat tersebut, namun dia tidak ada. Aku merasa sedih, merasa bersalah.
“kemana “dia” sahabat liarku ?”
“apa yang terjadi dengan “dia” sang sahabat liarku ?”
Aku duduk lesu dan masih memegang amakanan dengan bantal yang telah kubelikan untuknya “dia” sahabat liarku. Mataku basah. Apa yang harus kulakukan sekarang agar aku bisa menemukan “dia”.
            Aku melihat jarum jam ditanganku, sudah menunjukan pukul 17.35. inilah adalah waktu untuk kami makan bersama diasrama dan seharusnya saat iniaku udah kembali dan berkumpul dengan semua mahasiswa untuk makan bersama dimeja makan. Oh, TUHAN aku terlambat makan malama, dan tentu akan dihukum (dipahe ‘istilah hukuman untuk anak-anak asrama tempat aku tinggal’). Tapi aku ngga peduli dengan semuanya. Aku putuskan untuk tetap disini menunggu “dia”  sang sahabat liarku  kembali kesini.
            Mataku kembali mencari, namun tak satupun ada disini. Namun ketika aku memandang keseberang jalan raya, terlihat satu sosok yang sepertinya ku kenal. Ya, “dia”  adalah sahabat liarku. Dari mana ia gerangan? Tanpa berpikir panjang aku segera berlari untuk membantunya menyeberang, karena dia memang sedang berusaha menghentikan kendaraan, namun tidak bisa karena memang inilah adalah jam macat karena banyak orang yang pulang kerja. Aku memegang tangannya dan membantu “dia”  menyeberang dan akhirnya kami berhasil.
“…dari mana, kenapa ngga menunggu aku kembali ?”
“ tak kuasa menahan sakit to, maka kupaksakan untuk pergi membeli obat ”
“lalu obatnya udah diminum ?”
“belum to, tadi mau beli nasi dulu supaya makan dulu baru minum obat, tapi uangnya  ngga cukup, tinggal 3000,-”
Kembali aku tertunduk. Betapa perih luka yang ia alami. Betapa pahitnya hidup yang engkau jalani, wahai sahabat liarku.
“kebetulan tadi aku udah belikan makanan untukmu…, ayo makan, supaya bisa diminum obatnya”
Ternyata dalam kesakitannya, ia berusaha untuk membeli obat, walau uangnya tak cukup untuk membelikan makanan untuk mengisi perutnya. “dia” sudah satu hari penuh tidak makan, sungguh menyedihkan. Sementara “dia” sedang memakan makanan yang kubelikan tadi, aku terus menatapya sampai tidak sedetikpun kulewatkan untuk menatapnya saat ia makan. Mata sayu, muka pucat, badan yang begitu lelah, ku menatap pakaian dibadannya kusut penuh cabikan akibat lapuk.
            “dia” makan begitu lahapnya membuatku meneteskan air mata bahagia, karena bisa menyaksikan dia bisa makan. Ini adalah momen pertama dalam hidupku melihat orang seperti ini makan dengan menikmati makanan yang layak. Tanpa mempedulikan aku yang ada didepannya, “dia” terus menikmati nasi bebek yang kubeli.
“To, hari ini kok nasinya beda yah dari biasanya”
“haaa., emangnya kenapa…? Ngga enak ? apa nasinya udah basi…? Maaf aku             tau… kalau nasinya basi.”
Aku jadi sedih, maafkan aku … sudah memberimu nasi basi.
            “hehehe, to kenapa kamu sedih”
            “…maaf aku ngga tau kalau nasinya basi”
“siapa yang bilang nasinya basi to ? justru maksud ku tadi nasinya wuuenakk bangat, tidak seperti yang biasa aku makan”
            “ah, masa ia…, perasaan nasinya sama aja kok”
“ngga to, jujur baru kali ini aku makan nasi seenak ini. To kamu tau ngga kenapa rasa ini bisa seenak ini hari ini ?”
“ngga tau…,emangnya kenapa”
“karena hari ini kamu yang membelikannya untukku, dan juga kamu ada disampingku untuk menemani aku makan”
“hehehe… kamu banyak bohong”
Aku dan … terhanyut dalam kebagiaan,penuh canda dan tawa. Setelah ia memakannya, aku membantu “dia” untuk membuka obatnya untuk diminum. Ketika sekejap kumenatap jam ditangan ku, waktu telah menunjukan pukul 19.15. Diasrama tentu teman-temanku bertanya “kemanakah Chris” dan bisa saja besok aku dihukum dan bahkan malamini tentu jatah makan ku sudah dimakan mereka dan otomatis aku tentu tidak makan malam. Tapi aku tidak mempedulikan lagi hal tersebut, biarlah itu menjadi urusan belakang karena yang ku rasa sekarang hanyalah ingin tetap disini, merasakan sukacita bersama “dia” sang sahabat liarku, kalaupun terpaksa malam ini tidak makan tak mengapa, asal sahabat liarku kenyang dan malam ini sama sekali aku tidak merasa lapar.
            Setelah beberapa saat kami terhanyut dalam percakapan yang membuat kami tertawa terbahak-bahak, akupun memberanikan diri untuk bertanya.
            “…, aku boleh bertanya sesuatu ?”
            “apa to, kok mukamu serius bangat ?”
“…, apakah TUHAN ku sudah mengirimkan orang-orangnya untuk datang menghampirimu ?”
“To, semenjak aku cerita dengan mu tentang hal itu, entah kenapa perasaan lega kurasa. Walau demikian, tak satupun orang-NYA yang datang untuk menghampiriku. Namun itu tidak akan menjadi soal lagi bagiku to, karena kini aku udah mengerti bahwa aku memang tidak layak untuk dikunjungi oleh orang-orang-NYA. Tapi didepanku kini, IA sudah mengirimkan orang-NYA untuk ku to. Tak peru lagi aku menunggu karena karenamemang orang-NYA telah datang mengunjungi ku”
“siapa ? dan kapan orang-NYA datang bagimu ?”
“engkau to. Engkaulah orangnya.  Hatiku mengatakan bahwa engkaulah orang-NYA yang datang bagi ku”
Hatiku tersentuh, namun sepertinya aku mau tertawa. Tapi sejujurnya saja aku terharu. Sekali lagi aku meneteskan air mata.
            “apa benar …, engkau bisa tersenyum bahagia disaat aku ada disisimu ?”
“bahkan kalau boleh aku memanggil engkau temanku to, tapi aku sadar bahwa aku tidak layak menyebut engkau sebagai teman.”
“…, engkau mau memanggilku sebagai teman ?”
“tapi aku ngga layak to, badanmu terlalu bersih untuk berteman dengan ku”
Ia tertunduk, entah perasaan apa yang ia rasakan. Aku pun tak dapat meliha mukanya karena ia tertunduk. Akupun memegang pundaknya.
“…, sebelum engkau mau memanggil aku teman, aku telah lebih dulu memanggil engkau sahabat”
Ia terdiam, ia menatapku sambil tersenyum. Tiba-tiba ia meninju lenganku.
            “aoww, …, sakit tau”
            “hehehe.. biar aja to. Hmpp makasih yah  untuk semuanya”
            “ia…, sama-sama”
Kami kembali melanjutkan cerita dan bahkan aku sendiri merasa bahwa malam ini adalah malam yang berbeda dari malam-malam yang pernah aku lalui, baik saat aku hidup berasrama ataupun dalam hidup menjalani rutinitas kehidupan sehari-hari.
            “…, uangmu tinggal berapa sekarang yang ada ditangan”
            “3000,- lagi to. Tapi nanti juga besok ada lagi kok, ta jual gardus-gardus ini”
Kemudian aku mengambil sisa uang beli nasi dan bantal untuknya tadi, dan aku berikan untuk “dia”
            “ini untuk apa to ?”
“ini untuk apa to. Pakailah dulu karena belum tentu besok ada orang yang datang membeli gardusnmu”
“ngga to, kembalikan aja untukmu. Aku masih bisa dengan uang ini.”
“…, apa kamu menganggap aku sahabatmu?”
“bahkan seperti saudara bagi ku engkau to.”
“kalau begitu terima uang ini…, kalau kamu ngga terima berarti kamu ngga anggap aku sahabatmu dan aku ngga akan datang kesini lagi…”
Akhirnya setelah ku paksakan, akhirnya ia terima juga uang yang ku berikan. Aku bahagia dan ama penuh dengan sukacita.
            Kami melanjutkan cerita, dan entah sudah beberapa jam kami habiskan untuk bercerita, sepertinya tidak terasa. Kuperhatikan jarum jam tangan ku.
            “what?  Pukul 21:15. Aku lupa. Ini adalah jam doa bersama” batinku
Aku jadi sedih, aku harus cepat pulang. Kenapa malam ini jarum jam berjalan begitu cepat? Andai aku bisa memutarnya kembali, maka akan ku putar.
            “…, ini udah malam. Aku harus pulang. Teman-teman diasrama udah nunggu”
            “to, kenapa kamu cepat pulang, toh ini masih belum malam”
            “aku ada kegiatan …, bahkan inipun udah telat aku”
“to, siapa lagi yang akan temani aku melanjutkan malam ini kalau kamu pulang. Aku tak sanggup menyendiri to"
“…, aku sebentar aja pergi. Nanti kita jumpa lagi kok”
Dia tertunduk sepi, akupun seperti tak tega melihat  “dia” seperti itu. Akhirnya aku putuskan untuk mengajaknya  jalan-jalan besok, karena kebetulan besok hari minggu, dan tidak ada kegiatan.
            “…, besok kamu mau kemana”
“ngga ada to. Paling hanya istrahat supaya dada ini cepat sembuh. Kenapa emang to”
“ besok kan kami ngga ada kegiatan. Aku pengen ajak kamu jalan-jalan …, tapi jalan kaki saja”
“jalan-jalan kemana to? Aku ngga ada pakaian bersih”
“udah soal itu ngga usah kuatir. ”
“…, aku mau ajak kamu kesuatu tempat. Tapi aku takut kalau kamu ngga suka …”
“kemana to,”
“kegerja. Mungkin disana kamu akan merasa bahagia lebih dari sekarang”
“gereja dimana to. Jauh ?”
“ngga terlalu jauh… mungkin pergi kita dengan grab aja (mobil online) tapi pulangnya kita jalan kaki. Ngga apa-apa kan …”
Aku sebenarnya pengen mengajak… untuk beribadah digereja tempat aku studi, tapi setelah kupikir lebih baik … ku ajak beribadah ke sebuah gereja dijalan kinibalu. Mungkin melalui khotbah disana ia bisa merasa sukacita.
            “gimana …, mau ngga ?”
“itu adalah kerinduan ku selama ini to. Besok kita pergi. Tapi layakkah aku ke gerejamu dengan pakaian seperti ini ?”
“…, satu hal yang harus kamu tahu, bahwa TUHAN ku tak pernah memandangmu dari pakaian, tapi IA melihat kedalaman hati yang sungguh-sungguh untuk mau datang beribadah kepada-NYA. Bahkan besok IA akan tersenyum bila engkau hadir disana”
… tertunduk dan menangis
“ terimakasih to untuk semuanya. Aku ngga tau lagi dengan cara apa untuk berterima kasih pada mu. Sungguh ini adalah sebuah hari yang pernah terjadi dalam hidupku.”
Ia menarik tanganku dan menggenggamnya erat-erat. Oh dia menangis…
Aku memegang pundaknya dan berbisik
“maukah malam ini engkau ku doakan sebelum kita berpisah …”
“itu kerinduanku to. Bawa aku untuk lebih menikmati kebahagiaan yang kalian orang-orang-NYA rasakan”
Aku tersenyum geli mendengarnya, tapi terharu. Akhirnya aku mendoakannya. Ketika selesai berdoa, ku lihat  ada sesuatu yang berbeda diwajahnya. Ia tampak begitu ceria. Dalam hati aku hanya bisa bersyukur melihat semua anugerah TUHAN ku yang besar bagiku, IA memberiku kesempatan untuk menikmati hal seperti ini. Oh TUHAN ini adalah hal yang pertama yang pernah aku rasakan dalam kehidupan ku selama aku menempuh studi theologia.
            “to, janji besok untuk datang menjemputku yah. ”
            “ok bos. Siap kerjakan. Besok jam tujuh pagi aku akan datang”
Akhirnya aku pamitan dengan “dia” untuk pulang. Walaupun sebenarnya aku merasa bahwa ia tak rela aku pergi, namun aku menangkap ada seberkas cahaya sukacita diwajahnya. Ia mengantarku sampai kejalan raya tempat aku bersamanya menyeberang tadi. Ia ingin mengatarku sampai keasrama, namun aku melarangnya karena “dia” harus butuh istrahat dan jangan dulu berjalan terlalu jauh. Lalu aku pamitan dengannya. Sebelum aku pergi dia mendekatkan mulutnya ketelinganku dan membisikan sesuatu
“To, bila esok kau tak lagi melihatku, jangan pernah lupa kalau aku adalah saudaramu.”
“hmpp.. ia…, aku ngga akan pernah lupa”
Aku sama sekali tidak menganggap perkataannya yang baru saja diucapkannya sebagai sesuatu yang berarti. Akhirnya aku pun menyalaminya, lalu aku melanjutkan perjalanan pulang. Kulihat jam ku sudah menunjukan pukul 21.15, belum terlalu larut sebenarnya, tapi karena ada kegiatan doa jadi aku merasa waktu ini, aku sudah telat bangat masuk asrama.
            Ketika aku sampai keasrama, ternyata asrama sudah terkunci dan semua teman-temanku sudah keluar untuk doa malam di gereja. Aku berpikir apakah harus pergi lagi kekampus untuk ikut doa bersama ataukah menunggu saja sampai teman-teman yang lain  kembali, karena lima belas menit lagi sudah jam sepuluh malam. Akhirnya kuputuskan untuk menunggu saja diteras asrama sambil mengingat kembali peristiwa yang baru saja terjadi antara aku dan sahabat liarku.
            Setelah beberapa saat, akhirnya teman-teman pulang dari doa. Mereka bertanya-tanya dari mana saja diriku dari tadi sore.
            “kamu dari mana chris, kok baru pulang ?”
            “ngga dari mana-mana. Cuman cari angin segar aja diluar”
Akhirnya aku masuk, mengambil handuk dan mandi karena memang belum mandi dari tadi sore. Ketika masuk dikamar mandi terbayang lagi olehku keadaan “dia” sahabat liarku. apakah sekarang “dia” sudah tidur ? ataukah dia sedang kesepian karena aku tak bersamanya ? aku pengen cepat-cepat pagi agar aku bisa bertemu dengannya besok hari. Aku harus segera membawanya untuk menikmati indahnya hadirat TUHAN. aku ingin “dia” juga menikmati keselamatan dan sukacita yang kurasa. Sungguh aku bersyukur bahwa TUHAN memberikanku kesempatan untuk memenangkan “dia” untuk hormat dan kemuliaan-NYA.
            “TUHAN, biarlah ini sebagai awal dari perjuangan imannya. “dia” adalah jiwa rusak yang sedang terhuyung mencari jalan kebenaran. Biarlah Roh Kudus-MU berkarya dalam dirinya. Bawa “dia” TUHAN untuk mengenal-MU. Jaga “dia” malam ini, besok adalah hari pertama “dia” melihat bait kudus-MU. Hadirlah dalam kesepiannya malam ini, hibur dan lawat “dia” dengan kuasa dan anugerah-MU yang ajaib”
            Seusai mandi, aku segera berpakaian. Memang dari tadi sore aku belum renungan. Kuambil ALKITAB ku lalu aku renungan. Tak lupa dalam doa ku bawa “dia” sahabat liarku. setelah selesai renungan langsung ku buka lemari untuk melihat pakaian ku yang pasa untuk “dia”, supaya besok ia bisa memakai pakaian ku. Ku bawa baju garis-garis hitamku yang biasa ku pakai untuk kulaih dan celana jins hitam. Karena bajunya agak kusut aku langsung menyetrikanya. Baru saja aku selesai menyetrika baju, tiba-tiba ketua asrama datang menghampiriku, dan bertanya mengapa tidak ikut doa. Aku hanya mengatakan kalau tadi dari jalan-jalan. Untuglah aku tidak dapat pahe.
            Waktu telah menunjukan jam 23.55, mata ini masih belum bisa dipejam. Aku terus memikirkannya. Apa yang harus kulakukan supaya “dia” bisa mendapatkan pekerjaan yang bersih. Akhirnya kuputuskan untuk besok sore pergi ke PGS (pusat Grosir Surabaya) karena disana ada sepupuku yang kerja, siapa tahu ada lowongan pekerjaan. Aku pun belum tahu “dia” memiliki ijazah atau tidak, tapi besok akan ku coba. Entah kenapa aku terus gelisah, malam ini mungkin dia sangat kedinginan. Tapi dalam hati ku hanya bisa memohon agar TUHAN memberinya kehangatan. Kupaksakan mata ini untuk pejam..
            Piiiiiiiiipppp….ppiiiiiiiipppp….pipppppppppp…
Bel asrama berbunyi membangunkan semua anggota asrama, berarti ini sudah menunjukan pukul 04.45 .aku segera bangun dan cuci muka kemudian renungan, karena hari ini tidak ada doa dikampus. Setelah kerja praktis aku akhirnya minta izin untuk tidak ikut ibadah digereja tempat kami kuliah, karena hari ini aku mau beribadah kegereja… dijalan Krakatau.
            Waktu menunjukan pukul 06.15, akhirnya aku mandi. Kemudian setelah siap aku langsung berangkat ketempat “dia” untuk mengajaknya kegereja. Aku lupa kalau tidak ada lagi uangku, akhirnya aku coba melihat ATM dan syukurlah masih ada 125.000,- ditabungan, berarti masih bisa dicabut 50.000,-. Akhirnya aku melanjutkan perjalanan, dengan membawa baju dan celana yang akan kuberikan untuk “dia” supaya dipakai kegereja. Ketika hampir tiba ditempat “dia”, aku merasa seperti ada hal yang sangat aneh, kok tiba-tiba ada beberapa ibu-ibu yang ngobrol didepan jalan raya dan ada beberapa lelaki tua yang duduk ditempat yang biasa “dia” berbaring. Dengan rasa bingung, tapi penasara aku mendekati ibu-ibu tersebut untuk bertanya.
            “maaf bu, disini ada apa yah ?”
“okh, ini lho mas, si… tukang … meninggal tadi malam. Penyebabnya kematiannya masih diselidiki”
Tiba-tiba langit seperti rubuh menipa kepalaku, semua kekuatan tiba-tiba hilang dan jantungku berdenyut begitu kencang, hingga detakan jantungku bisa kuperhatikan dari baju yang kupegang untuk “dia”. Tumpuan kakiku seperti tak kuat menahan badanku, pakaian yang kupegang tiba-tiba jatuh, dan aku meraih pohon yang ada didepanku untuk kupegang, kuturunkan badanku untuk duduk. Sungguh aku tidak tahu kenapa kondisi tubuhku tiba-tiba seperti ini.
            Tidak, aku tidak boleh seperti ini, tidak mungkin … pergi secepat ini, mungkin orang lain karena tadi malam “dia” masih bercerita denganku dan bahkan kesehatan udah agak membaik. Akhirnya kuraih pakaian yang jatuh dan aku bangkit berdiri, tanpa pamit aku langsung pergi menuju tempat “dia” biasa duduk, ternyata yang ad disana adalah beberapa polisi dan beberapa warga. Aku mencoba bertaya tentang kejadian yang terjadi, dan sekali lagi jawaban yang sama dengan ibu-ibu diluar judapat dari bapak tersebut. Lalu aku melihat disekeliling, tapi mayat … tidak ada disitu.  Tapi bantal merah yang kubelikan tadi malam sudah tidak disitu lagi posisinya tetapi sudah ada diatas tumpukan  gardus.
            “trus jenazahnya kemana pak”
            “sudah dibawa ke RS mas untuk diotopsi”
Sekali lagi dadaku sepertinya sesak sekali dan jantungku serasa mau copot dari badanku. Aku tak kuasa, aku tak kuasa menahan air mata. Aku segera berlari keluar, aku berhenti dijalan yang agak jauh dari tempat “dia”. Aku mau jatuh rasanya, tanpa diperintah air mataku telah berderai bagaikan sungai yang kebanjiran. Sungguh aku tak kuasa menerima kenyaat ini. Mengapa ini menimpa “dia” sahabat liarku.
“kenapa TUHAN, ENGKAU memberikan jalan hidup yang begitu sulituntuknya ? kenapa baru saja aku mengenalnya ENGKAU telah membawanya dariku. Padahal hari ini aku harus membawa “dia” kegereja. ”
Sungguh aku tak kuasa menaham kepediha hatiku. Dalam perihnya luka dihari aku ingin kembai untuk bertanya RS mana yang menangani jenazah… aku mau melihat mukanya untuk terakhir kali. Namun aku mencoba untuk berdiri tegak supaya bisa menenangkan diri. Aku tidk peduli lagi apa yang ada dipikiran orang-orang yang lewat dengan kendaraan didekatku, aku terus melangkah, tatapanku serasa tiada tujuan. Aku mulai perlahan melangka sambil terus memegang baju yang kubawa tadi. Tiba-tiba kuhentikan langkahku.
            “kalaupun aku pergi kembali hanya untuk menanykan alamat RS yang menangani jenazah … tentu akan sia-sia karena pasti aku pun pasti  ngga akan diizinkan untuk melihat “dia” karena aku dengannya tak ada hubungan keluarga ”
Langkah demi langkah kulangkahkan kaki ku untuk kembali keasrama, bahkan tak sedikitpun terngiang dalam pikiranku lagi untuk pergi beribadah digereja.
            “kenapa TUHAN, kenapa ? kenapa pertemuanku dengannya begitu singkat,kenapa pula kemarin aku harus datang ketempat ini. Harusnya aku tidak bertemu dengannya untuk yang kedua kali. Aku bahkan belum sempat membawa “dia” kegereja” mataku kini sembab, air mata tak mampu kubendung, sungguhpikiran tak ada tujuan. Bahkan aku merasakan kesepian yang begitu mendalam. Apakah yang terjadi dengan “dia”. Bukankah semalam “dia” begitu bahagia bersamaku? Ataukah kami itu memang takdir bahwa hanya sebatas itu pershabatan kami ? aku belum sempat mencarikan “dia” pekerjaan. Oh TUHAN, mengapa harus seperti ini ?
            Kakiku serasa tak bertulang rasanya, lemas dan seakan tak sanggup untuk melangkah kembali. Aku harus pulang keasrama. Dalam perjalanan pulang menuju asrama aku bahkan seakan menempuh perjalanan yang sangat panjang. Setelah sampai keasrama aku segera masuk, tidak kupedulikan lagi ada teman yang lagi bercerita diteras asrama, tidak tahu apa mereka melihat mataku berair. Aku menuju kamar mandi dan mencuci muka. Kemudian tanpa melakukan apapun aku segera naik keatas ranjang, karena ranjangku diatas (tempat tidur diasrama kami bertingkat dua). Pikiranku masih kacau, yah sungguh amat kacau. Dalam pikirankumasih segara semua kenangan yang baru saja terjadi tadi malam dan bahkan jawaban warga yang ada disekitar tempat kejadian tadi pagi seakan membuat dadaku mau mencpot jantungku keluar dari tubuh. Sungguh aku tak kuasa.
            Namun dalam situasi tersebut, tiba-tiba pikiran teringat akan sebuah video yang pernah ku nonton yang menceritakan tentang kisah seorang remaja yang berteman dengan seorang kristen. Remaja ini setiap hari minggu selalu memaksa temannya agar temannya ini mengajak dia kegereja. Tetapi teman yang Kristen ini selalu menolak dan mengatakan bahwa ia tidak kegereja apabila remaja ini mengajak untuk kegereja, dan akhirnya remaja ini meninggal dunia akibat kecelakaan dan ia sama sekali tidak pernah kegereja. Namun dari siksaan nereka ia berseru kepada temannnya bahwa temannyalah yang menyebabkan ia masuk neraka, karena tidak mau membawanya kegereja. Aku merenungan semua hal tersebut.
            Apakah “dia” teman liarku akan masuk surga atau tidak. Aku tidak tahu karena itu adalah urusan DIA yang berkuasa atas hidup dan mati manusia. Namun tiba-tiba aku merasa lega, karena walaupun “dia” sudah tiada dan bahka hari ini dia yang harusnya pergi kegereja bersama ku harus pergi kepangkuan BAPA, setidaknya telah aku doakan dan bahkan TUHAN tentu melihat ketulusannya untuk mau datang beribadah dan berdoa pada-NYA. Mungkinkah semua ini memang telah masuk dalam skenarionya TUHAN ? mungkin “dia” harus kembali apabila semua kerinduannya untuk bertemu orang-NYA tercapai, dan tadi malam “dia” mengatakan kepadaku bahwa semuanya telah terpenuhi. Aku tersenyum bahagia mengingat hal tersebut. Setidaknya ia telah merasakan sukacita saat  bersamaku. Karena hari ini aku tidak mengikuti ibadah digereja, akhirnya aku bangun untuk renungan saja kemudian berdoa.
            Aku secara pribadi sangat bersyukur kepada TUHAN karena telah diberikan kesempatan untuk bertemu dengan … dan sama sekali tidak ada penyesalan bagiku. Kini tidak ada lagi kesedihan diwajahku, yang aa hanya sukacita, karena aku percaya bahwa … telah duduk disisi TUHAN di Surga. Terimakasih … untuk kenangan terakhir yang engkau berikan untukku, untuk kebahagiaan yang engkau rasakan juga menjadi sebuah ucapan syukur .
            Sampai dengan hari ini mana aku menuliskan novel ini, aku tidak pernah lagi ketempat “dia”. Namun kenangan tentang kami masih terukir indah dalam sanubariku.
Terimakasih… atas kehadiranmu walau hanya beberapa jam dalam hidupku. Kehadiranmu menyadarkan ku bahwa masih ada banyak jiwa-jiwa yang haus akan kebenaran perlu dijangkau. Aku tidak tahu siapa dan dimana mereka, namun mulai hari ini aku hanya bisa berdoa agar TUHAN memberikanku kesempatan untuk dapat  pergi untuk mereka. selama ini aku sadar bahwa dalam kenikkmatan kami menikati kenikmatan yang ada, ternyata ada banyak orang yang sangat membutuhkan kami, namun kami hanya berdiam diri dan bahkan bertengkar mempersoalkan hal-hal yang tidak perlu dipersoalkan.
Melalui kehadiran … beberapa waktu yang lalu dalam hidupku membuat aku sadar, bahwa hidup ini adalah kesempatan. Novel ini ktuliskan dan kupersembahakan untuk… sahabat liarku yang telah tenang disna, disisi BAPA yang di Surga.

           


Tidak ada komentar:

Posting Komentar